Menjadi Mahasiswa Yang Berbeda

Jum`at, 23 Januari 2015 21:54:30 - Posting by redaksi - 536 views

Menjadi Mahasiswa Yang Berbeda

 

MISBAHUDDIN

Mahasiswa Pendidikan Universitas Islam Malang (Unisma)

 

REALITA kehidupan berbangsa dan bernegara selalu membutuhkan orang-orang yang baik dan benar. Indonesia dengan Negara yang luas dan mempunyai penduduk terbesar se-Asia menjadi tolok ukur dalam bidang pendidikan, bertatakrama, dan bermoral. Dalam hal ini, pendidikan formal-termasuk didalamnya adalah perguruan tinggi- yang ada di Indonesia. Berperan penting membentuk pribadi yang dicita-citakan bangsanya.

                Mahasiswa dikenal sebagai pribadi yang mampu memainkan peran sebagai agent of change terhadap lingkungan sekitar. Dalam hal ini, yang bisa dilakukan mahasiswa, antara lain : pertama, Membiasakan diri ikut aktif dalam kegiatan masyarakat walaupun keberadaanya sebagai pendatang atau anak kos. Dengan tujuan mengetahui secara riil masalah apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Kedua, Memposisikan keadaan akademik (baca: pembelajaran) tidak hanya menonton dikampus melainkan langsung studi kasus di lapangan. Ketiga, Memperbanyak ikut kegiatan organisasi guna memperluas jaringan komunikasi sehingga tidak khawatir dalam hal menyampaikan aspirasinya kepada masyarakat. Keempat, Tidak harus menunggu mendapatkan gelar sarjana untuk terjun pada kegiatan masyarakat. Tetapi mulailah sejak dini, saat menjadi mahasiswa.

                Dalam hal bertindak dan mengambil keputusan seorang mahasiswa jelas berbeda dengan seorang supir angkot, petani, pedagang dan lain sebagainya. Mahasiswa lebih berfikir logis dan kreatif. Memikirkan sesuatu dengan waktu singkat untuk waktu yang lama. Di zaman yang sudah serba komunikasi dengan teknologi lingkungan menuntut orang berpendidikan untuk memberikan peluang kerja atau lapangan pekerjaan kepada pengangguran yang tidak sekolah, atau susah mencari kerja. Jika kita temui para mahasiswa yang sudah lulus dan mendapatkan gelar sarjana  tidak mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat seakan dianggap gagal menempuh perguruan tinggi.

                Sarjana yang hanya membawa “map” kesana dan kemari untuk melamar pekerjaan dianggap sebagai sampah masyarakat karena menjual dirinya di berbagai kantor, perusahaan, atau pabrik-pabrik. Hal itu tentu hanya orang-orang tertentu saja yang akan diterima di sebuah perusahaan atau perkantoran dengan alasan output dan input dalam sebuah perusahaan tidak selamanya berjalan normal setiap tahun. Dalam hal ini membuka lapangan kerja salah satu harapan besar masyarakat kepada mahasiswa.

                Mungkin teori-teori yang mengajarkan perbankan, peternakan, pertanian, dunia pembelajaran, serta bidang-bidang yang lain sudah tidak diragukan lagi dalam menafsirkan, menkaji, dan yang lainnya. Sehingga memperoleh nilai cumlaude atau indeks prestasi (IP) tinggi dalam prestasi akademiknya. Hal ini memang penting sebagai salah satu proses jalan keberhasilan.

                Akan tetapi masyarakat tidak akan menanyakan IP-nya berapa ketika sudah memberikan banyak peluang dan pemecahan masalah terhadap lingkungannya. Prestasi akademik memang menjadi prioritas utama menilai kecerdasan seorang mahasiswa. Juara lomba di berbagai even tentu menjadi nilai kesenangan kepada lembaga yang diwakili, tempat tinggal, dan bangsanya. Tapi kita lihat keberhasilan-keberhasilan anak muda bangsa ini belum bisa menggerakkan masyarakat tersingkir dari jurang kebodohan, keawaman, dan kemiskinan. Jalan utama yang harus kita raih adalah tidak menyia-nyiakan waktu belajar sebagai suatu penempaan dari teori ilmu pengetahuan dengan mengaplikasikan pada lingkungan sekitar. (*)

Tags #berbeda #mahasiswa #menjadi #yang