Model supervise Klinis di sekolah

Jum`at, 23 Januari 2015 21:57:01 - Posting by redaksi - 605 views

Model supervise Klinis di sekolah

Kepala Sekolah memiliki wewenang mensupervisi kinerja guru maupun tenaga pendidik yang lainnya. Model supervise yang di lakukan bisa berbagai macam mengikuti kerateristik dan kondisi di sekolah masing-masing, Model supervise yang digunakan kepala sekolah dimaknai sebagai bentuk atau kerangka sebuah konsep atau pola supervise yang di gunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakuakan kegiatan supervise. Model Supervisi dibagi sebagai berikut:

                Model Supervisi Konvensional; adalah model supervise yang menganut paham supervisor sebagai seseorang yang memiliki power untuk  menentukan nasib guru. Biasanya supervisior dengan gaya konvesional akan mencari-cari kesalahan guru bahkan sering kali memata-matai guru. Perilaku memata-matai ini disebut dengan istilah snoopervision atau juga sering disebut superisi korektif.

                Model Supervisi Artistik; model ini menuntut seorang supervisior dalam melaksanakan tugasnya harus berpengatahuan, berketerampilan, dan tidak  kaku karena dalam kegiatan supervise juga mengandung nilai seni (art). Beberapa ciri khas tentang model supervise yang artistic, antara lain(a) Memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara; (b) Memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup; (c) Mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda; (d)  Menuntut untuk memberi perhatian  banyak terhadap proses pembelajaran di kelas; (e) Memerlukan suatu kemampuan berbahasa dalam mengungkapkan apa yang dimiliki terhadap orang lain yang dapat membuat orang lain menangkap dengan jelas ciri ekspresi yang diungkapkan itu; dan (f) Memerlukan kemampuan untuk menafsir makna dari peristiwa yang diungkapkan.

                Model Supervisi Ilmiah; adalah sebuah model supervise yang digunakan oleh supervisior untuk menjaring data atau informasi dan menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menggunakan lembar observasi. Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) Dilaksanakan secara berencana dan kontinu; (b) Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu; (c) Menggunakan instrument pengumpulan data; dan (d) ada data yang obyektif yang diperoleh dari kesalahan yang riill.

                Model Supervisi Klinis adalah supervise yang dilakukan berdasarkan adanya keluhan atau masalah dari guru yang disampaikan kepada supervisor. Supervisi klinis adalah bentuk supervise yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.

                Konsep Supervisi Klinis Ide untuk memberlakukan supervisi klinis bagi guru muncul ketika guru tidak harus didupervisi atas keinginan kepala sekolah sebagai supervisior tetapi atas kesadaran guru dating ke supervisior minta bantuan mengatasi masalahnya. Kepala sekolah sebagai supervisior akademik seyogyanya memiliki pengetahuan dan menguasai penerapan supervise klinis. Konsep Supervisi klinis, mula-mula diperkenalkan dan dikembangkan oleh Morris L. Cogan, Robert Goldhammer, dan Richarct Weller di universitas Harvard pada akhir dasa warsa lima puluhan dan awal dasawarsa enam puluhan. Ada dua asumsi yang mendasari praktik supervise klinik: Pertama, pembelajaran merupakan  aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan pengamatan dan analisis. Supervisor pembelajaran akan mudah mengembangkan kemampuan guru mengelola  proses pembelajaran. Kedua, guru-guru yang profesionalnya ingin dikembangkan dengan pendekatan kolegial daripada cara yang outoritarian. Supervisi klinis adalah pembinaan kinerja huru dalam mengelola proses pembelajaran. Ada pula yang berpendapat sebagai kegiatan pembinaan guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Jadi supervise klinis: 1) pengembangan professional dan 2) memotivasi kerja guru dan memperbaiki proses pembelajaran yang kurang efektif.

                Tujuan Khusus Supervisi Klinis; (1) Menyediakan umpan balik yang obyektif terrhadap guru, mengenai pembelajaran yang dilaksanakannya; (2) Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pembelajaran; (3) Membantu guru mengembangkan keterampilannya menggunakan strtegi pembelajaran; (4) Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan keputusan lainnya; (5) membantu guru mengembangkan  satu sikap positif terhadap pengembangan professional yang berkesinambungan.

                Ciri-Ciri Supervisi Klini; (1) Bantuan yang diberikan bukan bersifat instruksi atau memerintah. Tetapi tercipta hubungan manusiawi, sehingga guru-guru memiliki rasa aman; (2) Apa yang akan disupervisi itu timbul dari harapan dan dorongan dari guru sendiri karena dia memang membutuhkan bantuan itu; (3) Satuan tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang terintegrasi, sehingga terlihat kemampuan apa yang secara spesifik harus diperbaiki; dan (4) Suasana dalam pemberian supervisi adalah suasana yang penuh kehangatan , kedekatan, dan keterbukaan.        

                Pelaksanaan Supervisi Klinis

Dalam proses supervise klinik adalah tahap pertemuan awal (preconference). Pertemuan awal ini dilakukan sebelum melaksanakan observasi kelas. Tidak ada tahap yang lebih penting daripada tahap pertemuan awal ini. Tujuan utam pertemuan awal ini adalah  untuk mengembangkan bersama antara supervisor dan guru, kerangka kerja observasi kelas yang akan dilakukan. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dan guru. Tujuan  ini bisa dicapai apabila dalam pertemuan awal ini tercipta kerja sama, hubungan kemanusiaan dan komunikasi yang baik antara supervisor dengan guru. Selanjutnya kualitas hubungan yang baik antara supervisor dan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap  kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervise klinis. Pertemuan pendahuluan ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam pertemuan awal ini supervisor bisa menggunakan waktu 20 sampai 30 menit, kecuali jika guru mempunyai permasalahn khusus yang membutuhkan diskusi panjang. Pertemuan ini sebaiknya dilaksanakan di satu ruangan yang netral, misalnya kafetaria, atau bisa juga di kelas. Pertemuan di ruang kepala sekolah  atau supervisor kemungkinannya akan membuat guru menjadi tidak bebas. Secara teknis, beberapa agenda yang dapat dilakukan antara lain :

a)      Menetapkan kontrak atau persetujuan antara supervisor dan guru tentang apa saja yang akan diobservasi. Meliputi ;

(1)    Tujuan intruksional umum dan khusus pembelajaran;

(2)    Hubungan tujuan pembelajaran dengan keseluruhan program pembelajaran yang diimplementasikan;

(3)    Aktivitas yang akan diobservasi;

(4)    Kemungkinan perubahan formal aktivitas, sistem, dan unsur-unsur lain berdasarkan persetujuan interaktif antara supervisor dan guru; dan

(5)    Deskripsi spesifik butir-butir atau masalah-masalah yang umpan balikannya diinginkan guru

b) menetapkan mekanisme atau aturan aturan observasi meliputi: waktu (jadwal) observasi , lamanya observasi, tempat observasi

c) menetapkan rencana spesifiksi untk melaksanakan observasi meliputi: dimana supervisor akan  duduk selama observasi , akankah supervisor menjelaskan kepada peserta didik mengenai tujuan observasinya jika demikian , kapan sebelum atau setelah pelajaran , akankah supervisor mencari satu tindakan khusus , akankah supervisor berinteraksi dengan peserta didik , perlukah adanya material atau persiapan khusus bagaimanakah supervisor akan mengakhiri observasi.(*) sumber : kemdikbud (dioalah)

 

 

Tags #di #klinis #model #sekolah #supervise